Playboy Bunny Blue

Rabu, 26 Februari 2014

tuhan bersifat wujud (ada)







       Ada sebuah kisah menarik yang mengisahkan tentang pertemanan Ulama dengan seorang Atheis. Dalam setiap pertemuan, hampir pasti terjadi polemik sengit keduanya. Apa yang diperdebatkan? Ternyata keduanya adu debat tentang keberadaan Tuhan. Benarkah Tuhan itu benar-benar ada (Wujud) ataukah hanya sesuatu yang maya dan imajinatif saja.
      Si Ulama memang ‘ainul yaqin bahwa Tuhan ada. Sebaliknya, si Atheis justru berkeyakinan Tuhan itu tidak pernah ada, hanya diada-adakan oleh orang yang tak yakin terhadap kapabilitas dirinya. Hanya rekaan orang yang tak mampu menghadapi realitas hidup dan oleh karenanya lantas melarikan diri dari kenyataan membawa diri dalam dunia maya, dunia rekaan, yang hakekatnya tidak pernah ada.
       Jika si Ulama yakin betul bahwa alam semesta ini ada, wujud, eksis, memang karena diciptakan Tuhan, maka sang Atheis ngeyel (menolak habis-habisan) bahwa alam ini bukan diciptakan oleh siapa-siapa, tetapi ada dengan sendirinya, terwujud dengan semestinya. Dari hari ke hari setelah adu debat dan memberikan argumentasi, keduanya tak kunjung menemui titik temu. Di tengah kejenuhan itu, si Atheis berkata: “Aku akan percaya jika kau dapat memberi alasan dan bukti.” Si Ulama menjawab, “Baiklah, kita ketemu lagi besok di tempat ini, dan waktu tepat seperti ini. Aku akan memberi bukti bahwa Tuhan memang benar-benar ada.”
       Akhirnya keduanya berpisah, namun berjanji untuk ketemu lagi. Esok harinya, di tempat yang sama pada waktu yang sama pula, sang Atheis telah datang lebih awal. Namun, setelah di tunggu, anehnya si Ulama tak kunjung muncul. Dengan hati yang sebel, dongkol, kesal bercampur aduk, si Atheis mulai curiga bahwa si Ulama tidak mendapatkan bukti untuk mendukung argumentasinya, dan oleh karenanya tidak berani nongol.
       Setelah satu dua jam menunggu, si Ulama tidak kunjung muncul. Si Atheis akan beranjak pergi, tetapi saat itulah muncul si Ulama dan berkata: “Tunggu sobat, jangan keburu pergi,” serunya. Si Atheis menghentikan langkah, menoleh, lantas bertanya dengan nada kesal, “Kenapa begitu lama? Bukankah kita sepakat berjumpa dalam tempat dan waktu yang sama?” Mendengar serentetan pertanyaan itu, si Ulama menjawab kalem, “Maafkan saya sobat. Saya terlambat karena di tengah perjalanan tadi saya melihat sebuah keanehan yang luar biasa menakjubkan.”
        Mendengar jawabann serius itu, kekesalan si Atheis sirna, digantikan dengan rasa penasaran yang luar biasa. Si Atheis lantas bertanya, “keanehan apa” “Begini sobat,” kata si Ulama, “Ketika menuju kesini tadi, saya melihat sebuah pohon kayu tiba-tiba roboh sendiri.” “Lalu?” tanya si Atheis masih penasaran. “Lalu, pohon kayu itu terbelah sendiri, secara otomatis menjadi potongan papan.” “Lantas?” tanya si Atheis tak sabar. “Lantas, papan tadi tersusun sendiri, menjadi meja dan kursi.”
        Mendengar cerita sang Ulama, si Atheis tersenyum kecut, sambil menimpali, “Mana mungkin ada pohon kayu roboh sendiri tanpa sebab? Mana mungkin ada sebuah pohon terpotong-potong sendiri menjadi papan, tanpa ada yang menggergaji? Mana mungkin pula ada papan menjadi meja dan kursi dengan sendirinya? Sudah pasti ada yang menyusunnya dan membuat semua itu.”
        Mendengar sangkalan beruntun dari si Atheis, sang Ulama tersenyum, lantas bertanya, “Kalau begitu mungkinkah alam semesta, bumi dan segala isinya ada dengan sendirinya, persis seperti perkataan anda? Ketahuilah sobat, alam semesta ini tentu pula ada yang membuatnya. Dia-lah yang awal dari segala yang awal. Dia-lah apa yang disebut Tuhan.” Demi mendengar ucapan itu, si Atheis terperanjat, melongo dan rasionya membenarkan argumentasi dan bukti-bukti sang Ulama.

Cerpen Karangan: Aldi Rahman Untoro
Facebook: Aldi Rahman Untoro

 http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/tuhan-bersifat-wujud-ada.html
 www.madmoizelle.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar