Playboy Bunny Blue

Rabu, 05 Maret 2014

KENANGAN TERINDAH



KENANGAN TERINDAH
Hati ini mulai tak gembira lagi ketika dia mulai menjahui ku karena seseorang lain yang kamu anggap lebih baik dariku, hati ini terasa sakit ketika aku mulai mendengar kabar-kabar buruk tentang dia yang selalu berusaha memberitahuku tentang kejelekannya.
                Awalnya aku tidak memperdulikan tentang semua omong kosong yg memberitakanmnya, tapi lama kelamaan aku mulai memberanikan diri untuk menyelidiki langsung tentang semua omongan yang membicarakanmu, tak ku sangka ternyata semuanya itu benar ketika aku mengetahui kemesraan mu tantang nya “kenapa kamu melakukan ini pada ku,apa salah ku padamu? aku tau aku tak sempurna tapi aku mempunyai hati yang harus di hargai.” kata ku padamu sambil mengelus dada yang seakan-akan tidak percaya smua ini terjadi , tetapi ia hanya diam .
                “PUTUS” kata itu yang aku lontarkan kepadamnya, aku tak percaya semua ini bisa terjadi pada kisah ku. Tapi aku mencoba untuk tegar dan tidak memperlihatkan rasa sedih ini pada semua orang terutama sama dia orang yang menyakitiku.
                2,3 bulan aku lalui tanpamu, tanpa orang yang selalu membuatku tersenyum dulu. Tapi yang membuatku masih bisa sedikit tersenyum adalah walaupun kita sudah tak ada ikatan lagi tapi kita masih masih berhubungan denga baik.
                Semenjak kamu putus dengan ku , aku mendengar kabar kalau kamu sering gonta ganti pasangan, dan kasus putusnya pun sama semua.
                Walaupun aku sudah lama tidak bersama mu lagi tapi aku kamu masih terekam jelas di otak ku. Aku tahu aku sangat bodoh yang masih mengingatmu  yang telah membuatku berantakan aku pun tau kau tak mengingatku lagi tapi sekarang aku mulai mncoba melupakanmu. Tapi  satu yang masih aku ketahui dalam hidupku dan akan aku abadikan yaitu ini adalah KENANGAN TERINDAH...

Rabu, 26 Februari 2014

Mimpi Tentang Surga



       Pada waktu perang Badar, Khaisima seorang kakek-kakek dan putranya berebut untuk pergi ke medan perang. Karena keduanya memiliki semangat yang berkobar untuk berjuang di jalan Allah, maka keduanya membuat undian siapa yang harus berangkat ke medan perang.
Ternyata putranya Khaisimalah yang beruntung, memenangkan undian tersebut. Lantas ia bersama Rasulullah menuju Badar. Anak muda itu akhirnya menjadi syahid.
Beberapa saat sebelum perang Uhud berkobar, Khaisima bermimpi melihat putranya bermain dan bersuka ria di sebuah taman indah di dalam surga. Dia seolah-olah melihat anak kesayangannya itu memetik buah-buahan sembari sesekali memandangi air jernih yang mengalir di depannya. Dalam mimpinya itu, sang anak bertanya kepada Khaisima ayahnya: “Ayah! Ananda disini sekarang. Rupanya janji Allah telah terbukti bagi Ananda sekarang. Mari Ayah, marilah ikuti Ananda!”
Saat bangun pagi, seketika Khaisima tersentak, hatinya gelisah, kemudian ia datang menghadap Rasulullah saw, memohon agar dimasukkan dalam daftar pasukan untuk pergi berperang ke bukit Uhud, “Ya Rasulullah!, aku telah tua, tulangku telah mulai rapuh dan aku ingin sekali menjumpai Tuhanku. Bawalah aku serta, ya Rasulullah dan do’akan agar aku pun mendapat syuhada sebagaimana anakku dan hidup bersamanya di surga.” Demikian permintaan Khaisima pada Rasulullah saw. tanpa sedikit pun keraguan di hatinya.
Dengan rasa terharu, Rasulullah mengangkat tangannya ke langit, mendo’akan sang Khaisima tua agar permohonannya yang tulus dan ikhlas itu terkabul. Maka berperanglah Khaisima yang telah tua renta itu dengan gagah berani hingga menjumpai syahidnya. Subhanallah
Cerpen Karangan: Aldi Rahman Untoro
Facebook: Aldi Rahman Untoro

tuhan bersifat wujud (ada)







       Ada sebuah kisah menarik yang mengisahkan tentang pertemanan Ulama dengan seorang Atheis. Dalam setiap pertemuan, hampir pasti terjadi polemik sengit keduanya. Apa yang diperdebatkan? Ternyata keduanya adu debat tentang keberadaan Tuhan. Benarkah Tuhan itu benar-benar ada (Wujud) ataukah hanya sesuatu yang maya dan imajinatif saja.
      Si Ulama memang ‘ainul yaqin bahwa Tuhan ada. Sebaliknya, si Atheis justru berkeyakinan Tuhan itu tidak pernah ada, hanya diada-adakan oleh orang yang tak yakin terhadap kapabilitas dirinya. Hanya rekaan orang yang tak mampu menghadapi realitas hidup dan oleh karenanya lantas melarikan diri dari kenyataan membawa diri dalam dunia maya, dunia rekaan, yang hakekatnya tidak pernah ada.
       Jika si Ulama yakin betul bahwa alam semesta ini ada, wujud, eksis, memang karena diciptakan Tuhan, maka sang Atheis ngeyel (menolak habis-habisan) bahwa alam ini bukan diciptakan oleh siapa-siapa, tetapi ada dengan sendirinya, terwujud dengan semestinya. Dari hari ke hari setelah adu debat dan memberikan argumentasi, keduanya tak kunjung menemui titik temu. Di tengah kejenuhan itu, si Atheis berkata: “Aku akan percaya jika kau dapat memberi alasan dan bukti.” Si Ulama menjawab, “Baiklah, kita ketemu lagi besok di tempat ini, dan waktu tepat seperti ini. Aku akan memberi bukti bahwa Tuhan memang benar-benar ada.”
       Akhirnya keduanya berpisah, namun berjanji untuk ketemu lagi. Esok harinya, di tempat yang sama pada waktu yang sama pula, sang Atheis telah datang lebih awal. Namun, setelah di tunggu, anehnya si Ulama tak kunjung muncul. Dengan hati yang sebel, dongkol, kesal bercampur aduk, si Atheis mulai curiga bahwa si Ulama tidak mendapatkan bukti untuk mendukung argumentasinya, dan oleh karenanya tidak berani nongol.
       Setelah satu dua jam menunggu, si Ulama tidak kunjung muncul. Si Atheis akan beranjak pergi, tetapi saat itulah muncul si Ulama dan berkata: “Tunggu sobat, jangan keburu pergi,” serunya. Si Atheis menghentikan langkah, menoleh, lantas bertanya dengan nada kesal, “Kenapa begitu lama? Bukankah kita sepakat berjumpa dalam tempat dan waktu yang sama?” Mendengar serentetan pertanyaan itu, si Ulama menjawab kalem, “Maafkan saya sobat. Saya terlambat karena di tengah perjalanan tadi saya melihat sebuah keanehan yang luar biasa menakjubkan.”
        Mendengar jawabann serius itu, kekesalan si Atheis sirna, digantikan dengan rasa penasaran yang luar biasa. Si Atheis lantas bertanya, “keanehan apa” “Begini sobat,” kata si Ulama, “Ketika menuju kesini tadi, saya melihat sebuah pohon kayu tiba-tiba roboh sendiri.” “Lalu?” tanya si Atheis masih penasaran. “Lalu, pohon kayu itu terbelah sendiri, secara otomatis menjadi potongan papan.” “Lantas?” tanya si Atheis tak sabar. “Lantas, papan tadi tersusun sendiri, menjadi meja dan kursi.”
        Mendengar cerita sang Ulama, si Atheis tersenyum kecut, sambil menimpali, “Mana mungkin ada pohon kayu roboh sendiri tanpa sebab? Mana mungkin ada sebuah pohon terpotong-potong sendiri menjadi papan, tanpa ada yang menggergaji? Mana mungkin pula ada papan menjadi meja dan kursi dengan sendirinya? Sudah pasti ada yang menyusunnya dan membuat semua itu.”
        Mendengar sangkalan beruntun dari si Atheis, sang Ulama tersenyum, lantas bertanya, “Kalau begitu mungkinkah alam semesta, bumi dan segala isinya ada dengan sendirinya, persis seperti perkataan anda? Ketahuilah sobat, alam semesta ini tentu pula ada yang membuatnya. Dia-lah yang awal dari segala yang awal. Dia-lah apa yang disebut Tuhan.” Demi mendengar ucapan itu, si Atheis terperanjat, melongo dan rasionya membenarkan argumentasi dan bukti-bukti sang Ulama.

Cerpen Karangan: Aldi Rahman Untoro
Facebook: Aldi Rahman Untoro

 http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/tuhan-bersifat-wujud-ada.html
 www.madmoizelle.com

Rabu, 19 Februari 2014

true love



TRUE LOVE
Karya Dina Pertiwi

Cinta sejati. Apakah kalian percaya akan itu? Akan "Cinta Sejati" yang konon katanya dimiliki oleh semua orang? Cinta yang katanya sangat indah dan menyenangkan? Mitos cinta sejati yang terus menerus melolong dihatiku.
***

Kupandangi bingkai biru di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum menatap benda yang ada didalam bingkai itu.

Bukan sebuah foto ataupun lukisan. Hanya sebuah kertas lusuh. Kertas catatan PKN yang aku robek dari buku miliknya 2 tahun lalu saat perpisahan SMP. Dia sama sekali tidak tahu aku merobek buku catatanya. Bahkan, mungkin dia tidak mengenalku. Aku hanya satu dari ratusan penggemarnya di sekolah.

Dia bukan artis. Dia adalah siswa tampan dan cerdas di sekolahku. Dia kaya dan pintar dalam bidang olahraga. Sifatnya yang cuek justru menjadi daya tarik bagi para kaum hawa, termasuk aku. Tapi, bisa dibilang, aku tidak terlalu menunjukkan diri bahwa aku menyukainya. Terbukti. Aku tidak pernah menyapa ataupun menegurnya. Aku menyukainya lewat diam.

Bahkan, robekan catatan PKN itu aku ambil diam- diam untuk kenang- kenanganku karena aku tahu dia akan melanjutkan study ke L.A.

Aku kembali tersenyum manis saat melihat robekan catatan itu. Orang bilang, apapun itu, jika memang jodoh, maka dia akan kembali lagi dan lagi. Dan aku percaya dia akan kembali kulihat.

Aku mengeluarkan kertas itu dari bingkainya. Kupeluk- peluk dan kubelai. Ku ajak tertawa dan tersenyum.

Gila. Konyol memang. Setelah puas dengan kegiatanku itu, aku meletakkan kertas itu di atas meja belajarku. Dan...
Syuuuut...
Angin bertiup menerbangkan kertas kenangan itu keluar jendela dan jatuh dipekarangan. Dengan sigap aku keluar rumah dan mengejar kertas itu. Itu adalah satu- satunya milikku yang mampu membuatku mengingatnya.

Saat aku hampir mendapatkanya, angin kembali meniupnya menjauhiku. Argh! Angin ini! Batinku kesal.

Aku kembali mengejar kertas itu. Dan saat aku hampir mendapatkannya kembali...
"Argh!! Sial banget sih?! Malah keinjek lagi!" seruku kesal saat tahu kertas itu di injak seseorang. Orang itu mengambil kertas yang ada di injakannya itu. Aku masih menatap jalanan berdebu dengan kesal.
"Jadi, daritadi kamu ngejar kertas ini ya?" ucap orang itu. Suara bariton yang ku kenal. Ku tengadahkan kepalaku menatap wajah dari si pemilik suara.

DEG!!!
Di... Diakan? Diakan pemilik kertas itu sebenarnya? Vigo. Cowok tampan, keren dan pintar itu... Bagaimana bisa?
"Ma... af. Aku ngerobek kertas itu...."
"gapapa kok Dina. Beneran deh gapapa. Karena, aku juga udah foto kamu diam- diam waktu itu." akunya padaku. Dia... Tau namaku?
"foto?! Diem- diem?"
"Lebih baik, kita nostalgianya ditaman aja deh." ucapnya sambil menarik tanganku ke taman.
***

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Fotoku ada dalam dompet Vigo?
"Aku dulu suka banget sama kamu Dina. Karena, kamu itu satu- satunya cewek yang gak pernah negur aku. Kamu cuek dan aku suka itu." ucapnya sambil tersenyum.
"Dulu, aku berharap bisa kenal dan pacaran sama kamu. Tapi, dekat kamu aja aku udah gemetaran, apalagi ngobrol sama kamu..." ucap Vigo lagi. Lalu dia menatap robekan kertas itu.
"Aku tau kok, kamu ngerobek kertas ini. Cuma aku pura- pura gatau aja. Aku seneng banget waktu kamu robek kertas ini. Karena itu artinya, kamu juga suka sama aku. Iyakan?" ucapnya yang membuatku tersipu malu.
"Ikh... Kok diem aja?" ujarnya sambil mencubit pipiku pelan.
"aku bingung mau ngomong apa..."
"Kamu percaya mitos True Love gak?"
"True Love? Emang ada?" tanyaku.
"mulanya, aku juga gak percaya. Tapi malem ini aku percaya. True Love aku udah aku temuin lagi. Aku suka kamu." ucapnya sambil natap bintang.
"udah jam 12 belom?" tanyanya.
"udah. Udah jam 12 tepat."
"Happy Birthday Dina :). Will you be My True Love?"

Apakah dia menyatakan perasaannya. Tanpa sadar, aku mengucapkan
"yes. I will."
***

Percaya atau tidak, itulah faktanya. True love akan datang. Sejauh dan sesulit apapun, Cinta Sejati akan mencari jalan lagi dan lagi untuk kita temukan. :)

PROFIL PENULIS
Nama: Dina Pertiwi
Tempat lahir: Sumut
Tanggal lahir: 22 Agustus 1996
Add fb: dinapertiwi69@ovi.com
Follow twitter: @dinapertiw1_

source http://www.lokerseni.web.id/2013/01/kumpulan-cerpen-romantis-terbaru-update.html

Rabu, 04 Desember 2013

biografi dari pembuat cerpen terkenal di indonesia yaitu HELVY TIANA ROSA



Helvy Tiana Rosa


Nama Lengkap : Helvy Tiana Rosa
Alias : No Alias
Profesi : -
Agama : Islam
Tempat Lahir : Medan
Tanggal Lahir : Kamis, 2 April 1970
Zodiac : Aries
Warga Negara : Indonesia

Suami : Widanardi Satryatomo
Anak : Abdurahman Faiz, Nadya Paramitha
BIOGRAFI
Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, 2 April 1970, Helvy hidup dalam keluarga yang sederhana. Keluarganya bahkan pernah sempat tinggal di tepian rel kereta api yang membuat mereka harus bertahan dengan suara bising kereta setiap saat. Hidup dalam kesederhanaan, setiap harinya Helvy dan adik-adiknya, Asma Nadia dan Aeron Tomino, mendapatkan dongeng dan wejangan dari ibunya yang sering kali berpesan akan optimisme hidup. Tak hanya pesan akan optimisme hidup yang berhasil ditanamkan Helvy dalam hidupnya, namun, kemampuan dan kebiasaan menulis ibunya yang memotivasi dirinya untuk lebih optimis dalam hidup.

Barangkali bakat menulis itu memang diturunkan dari ibunya dan telah ada sejak kecil. Dapat membaca sejak umur lima tahun nyatanya memudahkan Helvy dalam mengerti dan memaknai arti dari sebuah tulisan. Ia mulai semangat membaca sejak ia bisa membaca dan tahu ada tempat persewaan buku yang memajang banyak buku. Setiap harinya, ia sempatkan untuk mampir walau hanya sekedar melihat-lihat jenis buku yang ada.

Maklum, kebutuhan finansial keluarga saat itu hanya cukup digunakan untuk membayar uang sekolah. Namun, bukan Helvy namanya jika ia menyerah pada apa yang ia inginkan. Menginjak kelas 3 SD, Helvy mulai mengumpulkan buku dari hasil tabungannya. Buku-buku yang telah ia kumpulkan lalu disewakan kepada teman-teman sebayanya agar mereka bisa dapat membaca dan mengerti akan luasnya pengetahuan.

Benar, ketika ada suatu ungkapan bahwa dengan membaca kita akan mengetahui isi dunia dan dengan membaca pula kita bisa menuliskan betapa luas dan beragamnya dunia. Agaknya ungkapan tersebut memang berlaku dalam hidup Helvy, hobi membacanya kerap kali ditularkan pada adik-adiknya.
Tak hanya itu, ia juga mulai aktif menulis puisi dan cerpen lalu mengirimkan ke redaksi majalah anak. Benar saja, tak ada perjuangan yang sia-sia, karya Helvy banyak dimuat di majalah anak-anak yang kemudian semakin menyemangatinya untuk terus menulis dan memberikan contoh bagi adik-adiknya.

Helvy kecil tak hanya pandai menulis puisi dan cerpen, ia juga pandai menulis syair lagu. Ayahnya seorang musisi dan percaya bahwa suatu saat nanti Helvy dapat menjadi seorang penulis kenamaan Indonesia. Selama membuat syair lagu, ayahnya selalu mempercayakan Helvy untuk memeriksa syair-syair yang kurang pas kemudian digubah.

Di sekolah, Helvy pun sering mengikuti lomba membaca puisi yang mengantarkannya menjadi seorang sastrawan terkemuka saat ini. Di samping selalu menulis puisi dan cerpen, Helvy juga mulai belajar seni peran yang sering kali ia lihat dan pelajari saat ia berkunjung ke Taman Ismail Marzuki (TIM) setiap minggunya.

Perlahan-lahan bakat istri Widanardi Satryatomo di dunia sastra mulai tampak. Berbagai kejuaraan lomba puisi berhasil ia menangkan dan berbagai pementasan seni peran juga sering ia perankan hingga pada tahun 1990 ibu dari Abdurahman Faiz dan Nadya Paramitha ini mendirikan Teater Bening dan sering menuliskan naskah drama untuk dipentaskan saat dirinya berkuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Tak hanya aktif kuliah dan berkecimpung dalam dunia sastra, Helvy membagi waktunya dengan bekerja sebagai redaktur majalah Annida yang merupakan majalah pelopor anak muda berbasis reliji yang ada saat itu. Sebagai redaktur, Helvy menjadi semakin keranjingan untuk menulis dan menulis. Karyanya banyak dimuat di majalah Annida dan berhasil mengekskusi dirinya untuk naik jabatan menjadi seorang redaktur pelaksana.

Banyak karya Helvy yang dimuat di berbagai majalah, cerpen-cerpennya dianggap sebagai cerpen inspiratif anak muda jaman itu. Cerpennya yang sangat fenomenal dan mendobrak dunia sastra saat itu adalah Ketika Mas Gagah Pergi yang diterbitkan di Annida pada tahun 1993. Cerpen tersebut bersama dengan cerpen lain Helvy yang dibukukan Annida berhasil naik cetak puluhan kali dan dicetak dalam jumlah yang sangat banyak.
Adanya fenomena tersebut banyak sastrawan menyebutnya sebagai pendobrak dunia sastra modern. Rupanya bakat Helvy memang tak lagi bisa diragukan meski karyanya sempat mengalami pembajakan oleh warga Malaysia yang mengumpulkan karya-karya Helvy di berbagai media, nama Helvy tetap berkembang dan semakin dikenal.

Hingga akhirnya pada tahun 1997 bersama dengan adiknya, Asma Nadia, Helvy mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan buku. Takut diklaim sebagai usaha keluarga, Helvy mengajak cerpenis Annida lain untuk ikut bergabung dengan perusahaan yang ia beri nama Forum Lingkar Pena (FLP). FLP adalah sebuah tempat bagi siapapun kaum muda dari berbagai kalangan yang ingin menjadi penulis. Melalui FLP, nama Helvy semakin dikenal di berbagai negara. Perusahaan yang bertujuan mencari para penulis muda yang ia dirikan tersebut akhirnya menuai keberhasilan.

Didapatkan ratusan ribu penulis muda dari berbagai pelosok kota di Indonesia turut bergabung. Bahkan, pada tahun 2008, FLP meraih Danamon Award, sebuah penghargaan tingkat nasional yang diberikan kepada inspirator dan inisiator yang berhasil melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar secara signifikan. Sebelumnya, pada tahun 2002, FLP mendirikan Rumah Cahaya yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas membaca masyarakat dan pada tahun 2004 bergabung dengan Penerbit Mizan menjadi Lingkar Pena Publishing House. Di sana, Helvy menjabat sebagai direktur utama PT. Lingkar Pena Kreativa tahun 2004-2011. Kini, FLP sudah tersebar luas di pelosok Indonesia bahkan sudah sampai luar negeri seperti Hongkong, Malaysia, dan banyak lagi.

Ditanya bagaimana mulanya ia meraih banyak kesuksesan, seperti meraih The 500 Most Influential Muslims in The World (500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia), Royal Islamic Studies Centre, Jordan dan Georgetown University selama tiga tahun berturut-turut (2009-2011), Helvy mengaku bahwa bakat adalah bonus yang diberikan oleh Allah, tinggal bagaimana individu tersebut mengasah dan melatih bakatnya, kata dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Jakarta yang tengah menyelesaikan studi doktoral di tempat yang sama ini.
Riset dan Analisa: Atiqoh Hasan
PENDIDIKAN
  • Program Doktoral Universitas Negeri Jakarta
  • Program Sarjana dan Magister Fakultas Sastra Universitas Indonesia
  • SMAN 5 Jakarta
  • SMPN 78 Jakarta
  • SD Kartini II Jakarta
KARIR
  • Dosen Universitas Negeri Jakarta, 2005-sekarang
  • Direktur PT. Lingkar Pena Kreativa, 2004-2011
  • Founder Rumah Cahaya, 2002
  • Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP), 1997-2005
  • Founder Forum Lingkar Pena (FLP), 1997
  • Pimpinan Redaksi, 1997-2001
  • Redaktur Pelaksana, 1992-1997
  • Redaktur Majalah Annida, 1991-1992
PENGHARGAAN
  • Muslimah Inspirasi Indonesia versi Majalah Annida, 2012
  • The 500 Most Influential Muslims in The World (500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia), Royal Islamic Studies Centre, Jordan, 2011
  • The 500 Most Influential Muslims in The World (500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia), Royal Islamic Studies Centre, Jordan, 2010
  • The 500 Most Influential Muslims in The World (500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia), Royal Islamic Studies Centre, Jordan dan Georgetown University, 2009
  • Kartini Award sebagai salah satu “The Most Inspiring Women in Indonesia” dari Majalah Kartini, 2009
  • Danamon Award mengusung FLP yang ia dirikan, 2008
  • Wanita Indonesia Inspiratif dari Tabloid Wanita Indonesia, 2008
  • PKS Award untuk Pemimpin Muda Nasional, 2008
  • Bukavu, 10 Buku Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award, 2008
  • Dosen Berprestasi Universitas Negeri Jakarta, 2008
  • Indonesia Berprestasi Awards, Finalis, 2007
  • Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra, 2007
  • Duta Baca Nasional Pos Wanita Keadilan, 2007
  • Pemenang Utama Sayembara Esai AyahBunda-Prenagen, 2007
  • Tokoh Perbukuan Nasional, IBF Award, IKAPI, 2006
  • Tokoh Sastra Eramuslim Award, 2006
  • Muslimah Teladan Majalah Alia, 2006
  • 25 Tokoh Islam Damai Indonesia, Majalah Madina, 2005
  • Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi, Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI, 2004
  • Ummi Award dari Majalah Ummi, 2004
  • Pena Award untuk buku: Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist, 2002
  • "Ibuku Idolaku Award" dari Benadryl, Hari Ibu Tingkat Nasional, 2002
  • Muslimah Peduli Keu Nanggroe dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 2001
  • Muslimah Indonesia Berprestasi dari Majalah Amanah, 2000
  • Cerpen Terbaik Majalah Sastra Horison Satu dekade untuk “Jaring-Jaring Merah”, 1990-2000
  • "Fisabillah" Juara Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional, Yayasan Iqra, 1992
  • Juara II Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional, HUT Taman Ismail Marzuki, 1987
SOCIAL MEDIA
www.helvytianarosa.net
Facebook: Helvy Tiana Rosa
Twitter: @helvy

INILAH SALAH SATU CERPEN KARYA HELVY TIANA ROSA

Jaring-Jaring Merah

Jaring-Jaring Merah

Apakah kehidupan itu? Cut Dini, temanku, selalu saja marah bila mendengar jawabanku: hidup adalah cabikan luka. Serpihan tanpa makna. Hari-hari yang meranggas lara.
Ya, sebab aku hanya bisa memendam amarah. Bukan, bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Seperti juga hidup itu.
Dan kini hari telah semakin gelap. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke, menuju Buket Tangkurak, bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Dadaku telah amat sesak, tetapi langkahku makin kupercepat.
Lolong anjing malam bersahut-sahutan, seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Perih. Airmataku berderai-derai.
“Ugh!”
Aku tersandung gundukan tanah. Dalam remang malam, kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu, dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian.
Ngeri?
Oi, tahukah anjing-anjing buduk itu, aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Aku melihat orang-orang ditembak di atas sebuah truk kuning. Darah mereka muncrat kemana-mana. Aku melihat tetanggaku, Rohani ditelanjangi, diperkosa beramai-ramai, sebelum rumah dan suaminya dibakar. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulang kali. Aku melihat semua itu! Ya, semuanya. Juga saat mereka membantai… keluargaku, tanpa alasan.
Ffffffhuuih, kutarik napas panjang. Jangan menangis lagi, Inong! Kering airmatamu nanti. Meski lelah, lebih baik meniru anjing-anjing itu.
Aku merangkak dan maju perlahan. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Keringatku mengucur deras, wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung.
Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Tulang. Banyak tulang. Cakarku terus menggali. Kutemukan beberapa tengkorak, lalu remah-remah daging manusia. Ah, di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orang-orang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Di mana? Di mana tangan-tangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka ditanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya?
Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Aku menggali, terus menggali. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. Meratapi orang-orang yang kukasihi, yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini.
Sssssssttt!
Tiba-tiba, di antara suara serangga malam, kupingku mendengar langkah-langkah orang. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Mereka menuju ke arahku!
Aku harus menyanyi. Ya, menyanyi nyaring, dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri.
“Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar.
“Sayang, dulu ia cantik…,” ujar yang lain.
“Ya, juga sangat muda. Ah, sudahlah, biarkan saja,” kata yang ketiga. “Ia tak berbahaya. Hanya tertawa dan menangis. ”
Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. Mereka gila karena mengira aku gila. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan, awan, dan udara malam. Bersama desir angin, burung hantu, dan lolong anjing hutan. Bersama bayangan Ayah, Mak, Ma’e dan Agam. Kami menyanyi, kami menari Bungong Jeumpa. Lalu aku tersenyum malu, saat Hamzah yang telah meminangku, melintas di depan rumah dengan sepedanya. Dahulu. Ya, dahulu….

***

“Inong….”
Aku menggeliat. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. Hangat. Ah, di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Berarti…, ya, aku di rumah. Aku bangkit, mencoba duduk.
“Dari mana, Inong? Aku mencarimu seharian. Ureung-ureungmenemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak, subuh tadi.”
Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Cut Dini. Tangannya lembut membelai kepalaku.
“Aku cuma jalan-jalan. Aku tidak mengganggu orang,“ jawabku sekenanya.
“Aku tahu. Kau anak baik. Kau tak akan mengganggu siapa pun…, tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Berbahaya. Lagi pula kau seorang muslimah. Tidak baik pergi sendirian,” kata Cut Dini sambil memberiku minum.
Kugaruk-garuk kepalaku. “Therimoung… ghaseh….,” kuteguk minuman itu.
Cut Dini. Ia sangat peduli. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih.
Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Aku belum begitu lama mengenalnya. Orang-orang bilang ia anggota… apa itu… LSM? Juga aktivis mesjid. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Dan… cuma dia, diantara para tetangga yang sudi berteman denganku. Ia memberiku makan, memperhatikanku, menceritakan banyak hal. Aku senang sekali.
Dulu, setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai, aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam.  Sekuat tenaga kucoba untuk muncul, menggapai-gapai permukaan.  Namun tiada tepi.  Aku tak bisa bangkit, bahkan menyentuh apa pun, kecuali semua yang bernama kepahitan.  Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari.  Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung.  Segalanya terasa lebih ringan.
Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak.  Aku melempari atau memukul orang-orang yang lewat.  Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Kata mereka aku gila! Hah, dasar orang-orang gila! Cut Dini lah yang melarang. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Ia menyisir rambutku, mengajakku ke dokter, ke pengajian, atau sekadar jalan-jalan.
“Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi,” kata Cut Dini suatu ketika.
“Aku suka,” kataku pendek. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang.”
“Itu baju yang tak pantas dilihat. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi,” katanya pelan.
Kupandang baju ungu muda di tanganku. Tangannya koyak, ketiaknya juga. Lalu di dekat perut, di belakang…, bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana.
“Aku ingin memakainya,” lirihku. “Apa aku gila?” tanyaku.
Cut Dini menatap bola mataku dalam. “Menurutmu?”
Aku menggeleng kuat-kuat. Menggaruk-garuk kepalaku.
“Kau sakit. Kau sangat terpukul,” ujar Cut Dini. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran.
Aku mengangguk-angguk. Terus mengangguk-angguk, sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Aku suka membantah orang, tetapi tidak Cut Dini.
“Sudahlah.”
Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al-Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. Suaranya kadang berubah. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji — lewat pengeras suara — di musala.
Ah, meski tak mengerti, aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al Quran.

***

Siang itu aku sedang menjadi burung. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. Huh, semuanya busuk. Aku jadi ingin marah. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Hua… ha… ha, aku tertawa gelak-gelak.
“Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku.
Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah, lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini.
“Kami orang baik-baik. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong.“
Aku nyengir. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap?
“Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Ia atau bisa saja Anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini.”
Cut Dini membaca kertas itu. Kulihat wajahnya marah. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya, lebih lekat dari jendela.
“Tidak! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini, penjagalan di rumoh geudong, mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak, Jembatan Kuning, Sungai Tamiang, Cot Panglima, Hutan Krueng Campli… dan dimana-mana!” suara Cut Dini meninggi.  “Lalu perkampungan tiga ribu janda, anak-anak yatim yang terlantar…, keji that! Tidak!”
Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan.  “Kami hanya menindak  para GPK.  Ini daerah operasi militer.  Kami menjaga keamanan masyarakat.”
“Oh ya?” nada Cut Dini sinis.  “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu, banyak yang terpaksa menjadi cuak, memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Tetapi sekarang semua usai. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini.”
“Sudahlah, ambil saja uang ini buat Anda. Lupakan saja gadis gila itu.”
Apa? Gadis gila? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Aku berlari ke dapur, dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan keluar rumah. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak!
“Inong….”
Aku berhenti melempar. Aku berhenti jadi burung ajaib. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan.
“Masya Allah, nanti perabotan itu rusak,” suara Cut Dini tetap lembut. “Benahi yang rapi lagi, ya. Aku mau salat Lohor dulu,” katanya.
“Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. “Dulu aku salat bersama keluargaku, sebelum aku bisa jadi burung,” tukasku.
“Jangan menjadi burung, bila ingin salat seperti manusia,” kata Cut Dini tersenyum.

***
“Keluar, Zakariaaa! Keluar! atau kami bakar rumah ini!!”
Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Ma’e dan Agam, abang dan adikku.
Ketika pintu dibuka, tiba-tiba saja Ayah diseret keluar, juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus berzikir. Zikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.
“Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia seorang pemimpin. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!”
Warga desa menunduk. Mereka tak mampu membela kami. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah!
“Jangan ada yang menunduk!”
Aku gemetar mendengar bentakan itu.
“Ayo lihat mereka. Kalian sama dengan warga Mane… bekerja sama dengan GPK!” suaranya lagi.
“Kami bukan GPK!” suara Ma’e. “Ulon hana teupheu sapheu!”
“Lepaskan mereka. Kalian salah sasaran!” Ya Allah, itu suara Hamzah!
“Angkut orang yang bicara itu!”
Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung, lalu… ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Air mataku menderas.
“Siapa lagi yang mau membela?” tantang lelaki penyiksa itu pongah.
“Kami tidak membela, mereka memang bukan orang jahat,” suara GeuchikHarun. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. Jiibandum ureung biasa.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon.
Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun, lalu Ma’e, abangku! Aku histeris. Tak jauh, kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi, lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.
“Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!”
Aku meronta, menendang, menggigit, mencakar, hingga aku letih sendiri. Dan aku tak ingat apa-apa lagi, saat tak lama kemudian, nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” aku berteriak sekuat-kuatnya.
“Astaghfirullah, Inong! Inong, bangun!” dua tangan mengguncang-guncang badanku.
Airmataku menganak sungai, tetapi aku tak bisa bangun, sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang-orang sepertiku di sini, di dalam jaring-jaring merah ini.
“Inong, istighfar….”
Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan kesana kemari. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. Di mana Ayah, Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya?
Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring kesana kemari. Aku jatuh lagi. Merah. Silau. Pusing. Pedih. Wajah-wajah dalam jaring pias. Wajah-wajah itu retak, terkelupas dan berdarah. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii, tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!
Tak ada yang mendengar. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku.
“Allah tak akan membiarkan mereka, Inong! Tak akan! Kau harus sembuh, Inong! Semua sudah berlalu. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Tegar, Inong! Tegar! Laa haula walaa quwwata illa billah….”
Kabur. Samar kulihat Cut Dini. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Ia mengusap airmataku.
Lalu tak jauh di hadapanku, kulihat beberapa orang. Di antaranya berseragam. Tiba-tiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat.
“Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu, Pak. Tolong, beri kami keadilan. Bapak sudah lihat sendiri. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!”
Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi?
“Pergiii! Pergiii semuaaa!” teriakku. “Pergiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. ”Pergiiii!” Aku menceracau. Sekujur badanku bergetar, terasa berputar. Orang-orang ini tersentak, menatapku kasihan. Hah, apa peduliku?! Aku ingin berteriak, mengamuk, memorak-porandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku….
Tiba-tiba suaraku hilang. Aku berteriak, tak ada suara yang keluar. Aku menangis tersedu-sedu, tak ada airmata yang mengalir.  Aku mengamuk panik, tetapi kaku. Aku mencari bunyi, mencari bening, mencari gerak. Tak ada apa pun. Cuma luka nganga.
“Inong…, mereka akan membantu kita….”
Aku terkapar kembali. Menggelepar.  Berdarah dalam jaring.***


(Helvy Tiana Rosa, Cipayung, Juli 1998)
“Jaring-Jaring Merah” merupakan salah satu cerpen terbaik Majalah Horison 1990-2000.

Keterangan:
Buket Tangkurak           : Bukit Tengkorak
Geuchik                          : Kepala Desa
cuak                               : orang yang jadi mata-mata tentara
Mane                              : nama desa di Pidie
ureung-ureung               : orang-orang
that                                 : sekali
jibandum ureng biasa    : mereka orang biasa
therimoung ghaseh        : terimakasih
kherudoung                    : kerudung

source : disini  DAN DISINI
so