KITA MEMANG BERBEDA
Aku tidak pernah bosan mendengar alunan suaranya setiap hari
disetiap senja pagi “ kenapa kau begitu menyukai lagu sedih dan mendengarkan
jazz setiap hari” tanyaku sambil tetap melihatnya bernyanyi.
“Coba saja dengarkan, kau akan tau alasanku
menyukai lagu slow dan jazz”, iya, memang tidak membosankan bila kamu yang
menyanyikannya, “oh ya, aku sudah hapal lagu Phill Cholin, you will be in my heart”,
katamu bangga “aku menghafalkannya untukmu”. Oh ya coba kau
nyanyikan lalu dengan berlahan kau melantunkan lagu Phill Cholin itu, suaranya,
improvisasinya, mimik wajahnya benar-benar masih terekam di dalam ingatanku.
“bagus kan ?”, aku hanya menjawabnya denga tepuk tangan.
Karenanya favoritku semakin bertambah, senja adalah waktu favoritku,
mendengarkan suaranya juga hal yang menjadi
favoritku dan taman ini juga menjadi tempat favoritku, tapi taman ini tanpanya
terasa aneh dan terasa asing, ya aku tau dia yang membuat taman ini istimewa.
Semua kenangan manis ituselalu membuatku menangis, aku tidak
sedih tapi aku bahagia, aku bersyukur bisa menghabiskan banyak waktu dengannya.
2 minggu yang lalu aku melihatnya gelisah dan sepertinya
tidak enak badan, rasanya aku ingin memegang tangannya, mengusap air matanya
andai bisa akan aku korbankan semuanya agar aku bisa menyentuhnya, tapi apa
daya kekuatan besar sudah menahan ku.... kita berbeda.
Hari ini aku sudah menunggunya di taman berharap bisa melihat
wajahnya itu, aku berharap pasti dia akan datang, aku akan menunggunya, benar
saja kulihat sebuah kendaraan berhenti di depan taman, ya itu Putri, wajahnya
sudah cerah tidak semendung 2 minggu yang lalu, siapakah orang yang sudah
menghiburmu Put,, ?? mungkin orang yang lain yang lebih sempurna, ada orang
yang mengekorimu put,! Itukah orangnya, oh itu Nia, huff aku kira kau sudah
berpaling dariku Put!.
Aku melihat Putri mendekati bangku kayu tempat favorit kita
berdua, aku mengekorinya dari belakang tapi kedatanganku sama sekali tak
mengusiknya, sayup- sayup aku mendengar lagu Phill Cholin itu menari keluar
dari mulutnya, tapi disaat itu juga aku melihat butiran jernih keluar dari
pelupuk matanya, jangan menangis Put!, lihat aku, aku disampingmu! “lihat lah
Nia taman ini sudah sangat berbeda” ucap Putri. “sudahlah Put jangan di ingat-
ingat terus, “ “ya sudah ayok kita makam Dika, pasti dia sudah menungguku”
Mendengar percakapan itu air mataku yang sudah tidak berwujud
ini beranak sungai mengalir di pipi.
Iya kita memang sudah berbeda Put,,,! tuhan menyertaimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar