Ada sebuah kisah menarik yang mengisahkan tentang
pertemanan Ulama dengan seorang Atheis. Dalam setiap pertemuan, hampir
pasti terjadi polemik sengit keduanya. Apa yang diperdebatkan? Ternyata
keduanya adu debat tentang keberadaan Tuhan. Benarkah Tuhan itu
benar-benar ada (Wujud) ataukah hanya sesuatu yang maya dan imajinatif
saja.
Si Ulama memang ‘ainul yaqin bahwa Tuhan ada. Sebaliknya, si Atheis
justru berkeyakinan Tuhan itu tidak pernah ada, hanya diada-adakan oleh
orang yang tak yakin terhadap kapabilitas dirinya. Hanya rekaan orang
yang tak mampu menghadapi realitas hidup dan oleh karenanya lantas
melarikan diri dari kenyataan membawa diri dalam dunia maya, dunia
rekaan, yang hakekatnya tidak pernah ada.
Jika si Ulama yakin betul bahwa alam semesta ini ada, wujud, eksis,
memang karena diciptakan Tuhan, maka sang Atheis ngeyel (menolak
habis-habisan) bahwa alam ini bukan diciptakan oleh siapa-siapa, tetapi
ada dengan sendirinya, terwujud dengan semestinya. Dari hari ke hari
setelah adu debat dan memberikan argumentasi, keduanya tak kunjung
menemui titik temu. Di tengah kejenuhan itu, si Atheis berkata: “Aku
akan percaya jika kau dapat memberi alasan dan bukti.” Si Ulama
menjawab, “Baiklah, kita ketemu lagi besok di tempat ini, dan waktu
tepat seperti ini. Aku akan memberi bukti bahwa Tuhan memang benar-benar
ada.”
Akhirnya keduanya berpisah, namun berjanji untuk ketemu lagi. Esok
harinya, di tempat yang sama pada waktu yang sama pula, sang Atheis
telah datang lebih awal. Namun, setelah di tunggu, anehnya si Ulama tak
kunjung muncul. Dengan hati yang sebel, dongkol, kesal bercampur aduk,
si Atheis mulai curiga bahwa si Ulama tidak mendapatkan bukti untuk
mendukung argumentasinya, dan oleh karenanya tidak berani nongol.
Setelah satu dua jam menunggu, si Ulama tidak kunjung muncul. Si
Atheis akan beranjak pergi, tetapi saat itulah muncul si Ulama dan
berkata: “Tunggu sobat, jangan keburu pergi,” serunya. Si Atheis
menghentikan langkah, menoleh, lantas bertanya dengan nada kesal,
“Kenapa begitu lama? Bukankah kita sepakat berjumpa dalam tempat dan
waktu yang sama?” Mendengar serentetan pertanyaan itu, si Ulama menjawab
kalem, “Maafkan saya sobat. Saya terlambat karena di tengah perjalanan
tadi saya melihat sebuah keanehan yang luar biasa menakjubkan.”
Mendengar jawabann serius itu, kekesalan si Atheis sirna, digantikan
dengan rasa penasaran yang luar biasa. Si Atheis lantas bertanya,
“keanehan apa” “Begini sobat,” kata si Ulama, “Ketika menuju kesini
tadi, saya melihat sebuah pohon kayu tiba-tiba roboh sendiri.” “Lalu?”
tanya si Atheis masih penasaran. “Lalu, pohon kayu itu terbelah sendiri,
secara otomatis menjadi potongan papan.” “Lantas?” tanya si Atheis tak
sabar. “Lantas, papan tadi tersusun sendiri, menjadi meja dan kursi.”
Mendengar cerita sang Ulama, si Atheis tersenyum kecut, sambil
menimpali, “Mana mungkin ada pohon kayu roboh sendiri tanpa sebab? Mana
mungkin ada sebuah pohon terpotong-potong sendiri menjadi papan, tanpa
ada yang menggergaji? Mana mungkin pula ada papan menjadi meja dan kursi
dengan sendirinya? Sudah pasti ada yang menyusunnya dan membuat semua
itu.”
Mendengar sangkalan beruntun dari si Atheis, sang Ulama tersenyum,
lantas bertanya, “Kalau begitu mungkinkah alam semesta, bumi dan segala
isinya ada dengan sendirinya, persis seperti perkataan anda? Ketahuilah
sobat, alam semesta ini tentu pula ada yang membuatnya. Dia-lah yang
awal dari segala yang awal. Dia-lah apa yang disebut Tuhan.” Demi
mendengar ucapan itu, si Atheis terperanjat, melongo dan rasionya
membenarkan argumentasi dan bukti-bukti sang Ulama.
Cerpen Karangan: Aldi Rahman Untoro
Facebook: Aldi Rahman Untoro
http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/tuhan-bersifat-wujud-ada.html
www.madmoizelle.com